CAKRA.OR.ID – HRM Khalilur R Abdullah Sahlawiy, seorang pengusaha muda Asal Dusun Sokaan yang memiliki latar belakang keluarga petani, tengah membangun imperium pertaniannya untuk memastikan kedaulatan pangan Indonesia.
Perjalanan bisnisnya yang unik, dimulai dari penolakan terhadap tawaran bisnis beras sepuluh tahun lalu, kini berbuah manis dengan pendirian BAPANTARA Grup, sebuah induk perusahaan yang menaungi 18 anak perusahaan di bidang pertanian.
Sepuluh tahun silam, ketika banyak yang menawarkan bisnis beras, Jhi Lilur Panggilan Akrab HRM Khalilur R Abdullah Sahlawiy, yang besar di lingkungan sawah, justru menolaknya mentah-mentah. “Saya orang dusun, rumah saya dikelilingi sawah. Saya sudah jenuh dengan usaha berbau sawah!” kenangnya. Namun, ironisnya, setelah sepuluh tahun berkecimpung di bisnis pertambangan dan budidaya perikanan, khususnya lobster di Vietnam, tawaran bisnis beras kembali datang, kali ini dari para pengusaha besar pertanian Vietnam yang juga bergerak di sektor batubara.
Tawaran tersebut datang pada saat yang tepat, mengingat hubungan dagang Indonesia-Vietnam yang kuat di tiga sektor utama: pertanian (beras), pertambangan (batubara), dan perikanan (lobster). Jhi Lilur melihat peluang besar, khususnya di sektor beras khusus (premium), yang berbeda dengan beras CBP (Cadangan Beras Pemerintah).
“Saya anti impor beras CBP karena selama ini hanya menghancurkan petani,” tegas Jhi Lilur. Ia, yang memiliki latar belakang keluarga dengan kepemilikan lahan sawah yang luas, sangat memahami keresahan petani akibat anjloknya harga gabah. Namun, beras khusus dengan harga jual yang tinggi (Rp 25.000 – Rp 65.000) dan pangsa pasar yang signifikan (proyeksi impor sekitar 420.000 ton pada 2025) membuka peluang bisnis yang tidak merugikan petani lokal.
Pengalaman survei ke tiga provinsi lumbung padi di Vietnam Selatan (Dong Thap, An Giang, dan Can Tho) semakin menguatkan tekadnya. Melihat ribuan pabrik padi yang beroperasi secara masif, Sahlawiy bermimpi membangun hal serupa di Indonesia, bahkan ikut serta dalam pengembangan lahan sawah baru.
Tekad menjadi petani besar yang sudah ia canangkan lebih dari tujuh tahun lalu, akhirnya terwujud dengan BAPANTARA Grup (Bandar Pangan Nusantara Grup). Induk perusahaan ini akan segera mengibarkan 18 anak perusahaannya di seluruh Nusantara, dengan misi utama: memastikan kedaulatan pangan Indonesia dan mencegah kelaparan di negara agraris ini. “Di Indonesia, tidak boleh ada warga yang kelaparan karena tak mampu membeli beras,” pungkas Jhi Lilur.
Halima






