Ribuan Warga Padati Selamatan Desa Danau Ranu Grati, Tokoh Adat Kritik Manajemen Wisata Pemkab 

Redaksi
Kanjeng Mas Ayi Suhaya bersama Kanjeng Mas Udik Suharto

PASURUAN, newscakra.com — Ribuan warga Desa Ranuklindungan, Kecamatan Grati, Kabupaten Pasuruan, memadati kawasan wisata Danau Ranu untuk mengikuti tradisi tahunan Selamatan Desa dan Distrik pada Sabtu (11/07/2026). Gelaran warisan leluhur ini diselenggarakan sebagai perwujudan rasa syukur atas keberadaan Danau Ranu yang selama ini menjadi urat nadi perekonomian bagi masyarakat di empat desa sekitar, meliputi Grati Tunon, Dawe, Kalipang, dan Parasan.

 

Rangkaian acara dimulai sejak pagi hari dengan khidmat melalui istighosah bersama, yang kemudian dilanjutkan dengan prosesi ritual Larung Sesaji ke tengah Danau Ranu. Selain sebagai bentuk pelestarian tradisi, prosesi larung ini sekaligus menjadi refleksi historis peresmian Danau Ranu sebagai destinasi wisata pada masa lampau dengan menonjolkan kekayaan budaya khas Kecamatan Grati.

 

Memasuki malam hari, atmosfer kemeriahan semakin terasa saat digelarnya arak-arakan ancak (sesaji hasil bumi). Rombongan pawai budaya tersebut dibuka langsung oleh Kepala Desa Ranuklindungan beserta jajarannya, lalu disusul oleh ratusan warga yang terbagi dalam 80 tim peserta dengan iringan musik dari sound horeg.

Beragam pertunjukan seni tradisi turut menyemarakkan pawai yang mengambil titik awal dari Pendopo Kantor Desa Ranuklindungan menuju Balai Wisata Danau Ranu tersebut. Mulai dari tari-tarian tradisional, parade pakaian adat Jawa, kostum nelayan dan petani, kesenian jaranan, hingga teatrikal legenda masa lalu yang diperagakan oleh pemuda-pemudi setempat.

 

Acara ini dihadiri oleh sejumlah pemangku kepentingan dan tokoh penting, di antaranya Sekretaris Kecamatan Grati, Kapolsek, Danramil Grati, perwakilan Dinas Pariwisata Kabupaten Pasuruan, serta jajaran tokoh agama dan tokoh masyarakat (toga-tomas), termasuk budayawan lokal Kyai Ayi Suhaya dan Kyai Udik Suharto.

 

Mengawali sambutannya, tokoh budayawan sekaligus tamu kehormatan, Kyai Ayi Suhaya, menyampaikan pesan mendalam mengenai pentingnya menjaga kelestarian Danau Ranu sebagai bentuk rasa syukur kepada Sang Pencipta. Namun di sisi lain, Kyai Ayi juga melayangkan catatan kritis terkait sepinya pengunjung Danau Ranu pada hari libur akibat manajemen pengelolaan yang dinilai kurang optimal. Ia juga menyayangkan ketidakhadiran jajaran pimpinan daerah seperti Bupati, Wakil Bupati, Sekda, maupun Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Pasuruan dalam momen krusial tersebut.

Baca juga
Polisi Segera Panggil Saksi Kasus Dugaan Penganiayaan Siswa SMPN 1 Panji Situbondo

 

“Kami berharap kepada Bapak Bupati, Dinas Pariwisata, serta Dinas Kebudayaan dan Pendidikan Kabupaten Pasuruan agar pengelolaan Danau Ranu ini bisa dialihkan kepada masyarakat melalui Badan Usaha Milik Desa (Bumdes). Jika dikelola oleh Bumdes di bawah naungan pemerintah daerah, pemuda setempat bisa dilibatkan secara aktif dalam berwirausaha,” ujar Kyai Ayi.

 

Menurutnya, keterlibatan aktif masyarakat lokal akan menumbuhkan rasa memiliki sekaligus menjadi solusi konkret untuk mengentaskan kemiskinan, mengurangi angka pengangguran, serta meningkatkan Pendapatan Asli Desa (PAD) demi kesejahteraan warga Ranuklindungan dan Grati.

 

Senada dengan hal tersebut, Kyai Ageng Udik Suharto memaparkan potensi ekonomi Danau Ranu yang sangat besar, baik sebagai lokasi budidaya perikanan tangkap seperti ikan nila, lele, udang, dan patin, maupun sebagai sumber irigasi lahan pertanian yang mengalir ke tiga sungai di Kecamatan Grati, Lekok, dan Rejoso.

 

“Danau Ranu ini sangat bermanfaat bagi nelayan dan petani. Pemerintah daerah harusnya lebih memahami potensi ekonomi dan ruang partisipasi masyarakat di sini. Jika ingin difokuskan untuk sektor wisata ya dimaksimalkan wisatanya, kalau untuk budidaya ikan ya benar-benar ditujukan untuk kesejahteraan masyarakat. Dinas Pariwisata dan Dinas Perikanan harus terjun langsung ke lapangan,” tegas Kyai Udik.

 

Usai sesi penyampaian aspirasi, panggung hiburan kembali dilanjutkan dengan pertunjukan seni tari kolosal yang mengangkat kisah mistis Ratu Laut Selatan, Nyi Roro Kidul.

 

Puncak acara yang paling dinantikan oleh penonton adalah teatrikal legenda asal-usul Danau Ranu. Pertunjukan kolosal tersebut mengisahkan pertapaan Begawan Nyampo dan Endang Sukarni yang melahirkan Baru Klinting, sesosok putra berwujud ular naga raksasa. Drama tradisional ini disajikan secara spektakuler lengkap dengan replika naga terbang yang memicu decak kagum ribuan pasang mata.

Baca juga
Hatijah, S.Pd. Resmi Dilantik Sebagai Ketua MKKS SMKS Kabupaten Situbondo Periode (2026-2030), Siap Perkuat Sinergi Pendidikan

 

Rangkaian acara yang berlangsung semarak ini ditutup dengan tradisi grebeg ancak, di mana warga saling berebut hasil bumi dengan penuh suka cita, dilanjutkan dengan pengumuman pemenang lomba peraga kostum terbaik berhadiah total puluhan juta rupiah. Seluruh gelaran festival budaya ini berakhir pada pukul 24.00 WIB dalam situasi yang aman, tertib, dan kondusif.

Penulis: Remad/ChuEditor: Red