Skandal Bonus Atlet Pasuruan: GM-FKPPI Kirim Karangan Bunga “Duka Cita” dan Galang Koin untuk Pahlawan Olahraga

Redaksi
Oplus_16908288

KOTA PASURUAN, NewsCakra.co — Halaman Kantor Pemerintah Kota Pasuruan berubah menjadi panggung amarah dan keprihatinan pada Senin pagi (02/03/2026). Puluhan atlet berprestasi bersama koalisi aktivis LIRA Jatim, GM-FKPPI, serta tokoh masyarakat menggelar aksi unjuk rasa besar-besaran. Mereka menuntut keadilan atas pemangkasan bonus Porprov Jatim 2025 yang dinilai “tidak manusiawi” dan menghina martabat atlet.

 

​Aksi ini tidak hanya diwarnai orasi panas, tetapi juga teatrikal duka cita dan penggalangan koin di jalanan sebagai sindiran telak atas dalih “kemiskinan” anggaran pemerintah daerah dalam menghargai pahlawan olahraganya.

 

​Massa membeberkan data penurunan bonus yang sangat kontras dengan harapan para atlet. Alih-alih mendapatkan apresiasi lebih, nilai bonus justru dipangkas hingga 70%.

 

Medali Bonus Sebelumnya (Normal) Bonus Saat Ini (2025) Nominal Pemangkasan

Emas Rp30.000.000 Rp10.000.000 – Rp20.000.000

Perak Rp20.000.000 Rp7.500.000 – Rp12.500.000

Perunggu Rp10.000.000 Rp5.000.000 – Rp5.000.000

 

“Dimana Hati Nurani Pemerintah?”

Wahyu, perwakilan atlet Kota Pasuruan, tak kuasa menahan tangis saat menyuarakan isi hatinya. Ia menegaskan bahwa perjuangan mereka di lapangan dilakukan dengan pertaruhan fisik dan materi yang tidak sedikit.

 

“Kami berlatih pagi, siang, malam hingga berdarah-darah di lapangan demi nama Kota Pasuruan. Tapi kenyataannya, kami hanya dihargai sepertiga dari biasanya. Dimana hati nurani pemerintah?” ucapnya dengan suara bergetar.

 

Ketua GM-FKPPI sekaligus Wagub LIRA Jatim, Ayi Suhaya, S.H., melontarkan kritik yang lebih tajam. Ia menduga kebijakan anggaran yang kacau ini merupakan dampak dari ketidakharmonisan atau “geng-gengan” di internal birokrasi antara Walikota (N1), Wakil Walikota (N2), dan Sekda (N3).

 

“Jika sudah tidak mampu menyejahterakan rakyat dan atlet, lebih baik Walikota mundur saja! Janji kampanye Anda hanya ‘angin surga’ di atas penderitaan atlet,” tegas Ayi. Ia juga mengingatkan para pimpinan daerah agar bekerja dengan benar, seraya menyentil bahwa beberapa oknum pimpinan di Pasuruan seolah “tidak ada kapoknya” berurusan dengan KPK.

Baca juga
Pemerintah Bangun Pembatas 138 Km di Way Kambas, Solusi Permanen Konflik Gajah dan Manusia.

 

5 Poin Utama Tuntutan Massa:

Evaluasi Total Bonus: Menolak keras penurunan bonus dan menuntut pengembalian nilai emas ke angka Rp30-40 juta sesuai janji awal.

Kritik Komitmen: Pemerintah dianggap gagal menghargai prestasi generasi muda sebagai aset bangsa.

Janji Palsu PAK: Mengutuk janji manis Walikota yang diklaim akan diselesaikan melalui Perubahan Anggaran Keuangan (PAK) namun nyatanya nihil.

Solusi Anggaran Alternatif: Mendesak Pemkot mencari solusi melalui Pendapatan Asli Daerah (PAD) atau dana cadangan, bukan memotong hak atlet.

Peringatan Keras: Memberikan ultimatum kepada Walikota, Dispora, Sekda, dan KONI untuk segera menyelesaikan masalah ini.

 

Hingga aksi berakhir, baik Walikota maupun Sekda tidak menampakkan diri untuk menemui massa. Pernyataan sikap dan karangan bunga hanya diterima oleh perwakilan Bakesbangpol, Heri. Ketidakhadiran pimpinan daerah ini semakin memicu amarah massa yang melabeli pimpinan Kota Pasuruan sebagai sosok “pengecut” yang enggan menghadapi aspirasi rakyat secara langsung.

 

Sebagai bentuk solidaritas, massa melanjutkan aksi penggalangan donasi koin di jalanan yang hasilnya akan diserahkan langsung kepada para atlet sebagai bentuk sokongan moral dan materi dari rakyat untuk rakyat. (Gha)