DINAMIKA MUKTAMAR NU KE-35: PERTARUNGAN DIMULAI DARI KOMPOSISI AHWA, BUKAN SAAT PEMUNGUTAN SUARA

Redaksi

Newscakra.com – Menjelang pelaksanaan Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ke-35, konstelasi politik organisasi mulai terlihat jelas. Jika kita menggunakan pendekatan praktis dengan istilah “pasangan calon” atau “paslon”—meski tidak lazim secara formal dalam struktur organisasi—maka realitas kekuatan yang sedang berlangsung menjadi lebih mudah dipetakan.

Secara normatif, pemilihan Rais Aam dilakukan melalui mekanisme Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA). Namun dalam realitasnya, komposisi AHWA bukanlah ruang yang steril. Ia sering kali dikondisikan dan dipengaruhi oleh relasi serta kepentingan para aktor utama yang mengusung calon Rais Aam dan Ketua Umum.

Bukti nyata dari hal ini terlihat dari dinamika terkini. Tercatat adanya upaya dari Sekretaris Jenderal PBNU, Saifullah Yusuf (Gus Ipul), yang tidak menginginkan dua tokoh kiai, yaitu KH. Nurul Huda Jazuli dan KH. Kafabihi Makhrus, masuk dalam daftar anggota AHWA.

Menurut narasi yang berkembang, kedua kiai tersebut dinilai memiliki kecenderungan mendukung KH. Said Aqil Siradj, sementara Gus Ipul lebih menginginkan KH. Miftachul Akhyar tetap menduduki kursi Rais Aam.

Hal ini menegaskan satu fakta penting: Pertarungan Muktamar tidak hanya terjadi di ruang pemilihan, tetapi sudah dimenangkan atau dikalahkan jauh sebelumnya, tepatnya di ruang penentuan siapa yang berhak memilih.

Saat ini, terdapat setidaknya lima poros atau skema konfigurasi kepemimpinan yang sedang bergerak dinamis:

1. Poros Yahya Cholil Staquf: Figur ini mantap mencalonkan diri sebagai Ketua Umum, namun saat ini masih dalam proses mencari figur yang pas untuk mendampinginya sebagai Rais Aam.
2. Poros Saifullah Yusuf: Gus Ipul bergerak mempertahankan pengaruhnya, dengan target utama mempertahankan KH. Miftachul Akhyar sebagai Rais Aam, sambil meramu figur terbaik untuk posisi Ketua Umum.
3. Poros Jaringan PKB: Terdapat gerakan yang beririsan dengan Partai kebangkitan Bangsa yang mendorong skema tertentu dengan mengusung KH. Said Aqil Siradj sebagai Rais Aam.
4. Poros Kementerian Agama: Muncul pembacaan potensi keterlibatan Menteri Agama, Nazaruddin Umar, sebagai calon Ketua Umum, dengan posisi Rais Aam yang masih terbuka untuk dikonfigurasi.
5. Opsi Alternatif: Seperti tradisi NU, selalu ada kemungkinan munculnya “paslon kompromi” di detik-detik terakhir jika belum ada poros yang mampu mendominasi sepenuhnya.

Baca juga
Terduga Penyebar Video Asusila di Tutur Pasuruan Siap Penuhi Panggilan Polisi

Dinamika ini semakin menarik seiring dengan sinyal yang muncul dari forum IKA PMII. Terdapat kemungkinan terbentuknya koalisi raksasa yang menyatukan jaringan PKB, elemen Kementerian Agama, dan pendukung KH. Said Aqil Siradj.

Jika tokoh-tokoh kunci seperti Muhaimin Iskandar, Nusron Wahid, dan Nazaruddin Umar benar-benar bersatu dalam satu poros, bukan tidak mungkin hasil Muktamar telah “matang” sebelum forum resmi dibuka.

Namun demikian, segala kalkulasi politik tersebut harus berhadapan dengan faktor Kiai Pesantren. Para kiai adalah penentu akhir yang sering kali berada di luar hitungan-hitungan formal atau kekuatan partai politik.

Satu hal yang menjadi catatan menarik adalah perubahan konfigurasi dari kepemimpinan sebelumnya. Mengapa Yahya Cholil Staquf tidak kembali berpasangan dengan Miftachul Akhyar dan mempertahankan Gus Ipul?

Perubahan semacam ini biasanya mencerminkan adanya ketegangan atau perbedaan orientasi strategis yang tidak selalu tampak ke permukaan—bisa karena perbedaan visi, perebutan pengaruh, atau perbedaan cara membaca arah NU ke depan.

Saat ini, Gus Yahya diketahui telah melakukan pendekatan kepada Buya Said Aqil Siradj untuk menjadi pasangannya, meski belum mendapat jawaban pasti. Ia mengklaim memiliki basis dukungan awal sekitar 40 persen. Jika negosiasi dengan Said Aqil gagal, opsi seperti KH. Asep Saifuddin Halim atau Ma’ruf Amin terbuka lebar.

Di sisi lain, jika strategi Gus Ipul lebih berhasil, skema alternatif seperti Nazaruddin Umar (Ketum) dan Miftachul Akhyar (Rais Aam) sangat mungkin terjadi.

Muktamar NU ke-35 membuktikan bahwa kepemimpinan organisasi tidak pernah berdiri sendiri. Ia selalu merupakan hasil dari konfigurasi dua poros sekaligus: Rais Aam sebagai simbol keilmuan dan Ketua Umum sebagai motor eksekutif.

Di balik itu semua, pertarungan sesungguhnya adalah tentang arah dan masa depan Nahdlatul Ulama.

Baca juga
Polri Bongkar Penambangan Ilegal dan Penyelundupan Pasir Timah ke Malaysia, 7 Tersangka Diamankan

Dilaporkan oleh:
HRM. Khalilur R Ab. S
Warga NU, Kiai Kampung, Pengusaha Rokok

Penulis: HalimaEditor: Red