Sarat Pesan Spiritual, Intip Kemeriahan Wayang Kulit Bersih Desa di Pekon Yogyakarta Selatan

Redaksi

PRINGSEWU, Newscakra.com – Tradisi Bersih Desa di Pekon Yogyakarta Selatan, Kecamatan Gadingrejo, Kabupaten Pringsewu dimeriahkan pagelaran wayang kulit semalam suntuk. Acara digelar di halaman Ketua RT 03, Apriyanto, pada Sabtu malam [11/7/2026].

Pagelaran menghadirkan dalang Ki Andi Cahyono dari Tulungagung dengan lakon _”Semar Bangun Puri Kencono”_ atau Semar Membangun Kahyangan.

Lakon ini merupakan metafora pewayangan Jawa tentang pemimpin yang membangun kesadaran moral dan spiritual demi kesejahteraan rakyat.

“Semar adalah simbol rakyat kecil. Ia tidak membangun istana fisik, tetapi membangun mental, hati nurani, dan kepedulian para pemimpin agar adil, mengayomi, dan melayani. Bukan membangun istana dari hasil korupsi,” demikian pesan yang disampaikan dalam pagelaran.

Wayang kulit semalam suntuk merupakan tradisi sakral tahunan masyarakat Pekon Yogyakarta Selatan. Pentas ini menjadi ungkapan rasa syukur di bulan Suro, sekaligus sarana spiritual untuk tolak bala, introspeksi diri, dan melestarikan budaya leluhur masyarakat Jawa.

Suasana berlangsung meriah dan khidmat sepanjang malam. Warga Pekon Yogyakarta Selatan dan warga dari pekon sekitar tampak memadati lokasi.

Hadir dalam acara tersebut Camat Gadingrejo Eko Purwanto, Danramil Gadingrejo Kapten Inf. Rendi Kurniawan, Kapolsek Gadingrejo Iptu Sugiyanto, unsur Forkopimcam, serta tokoh masyarakat, agama, dan pemuda setempat.

Kepala Pekon Yogyakarta Selatan, Mursidi, menyampaikan apresiasi kepada semua pihak.

“Tidak ada kata lain selain mengucapkan terima kasih kepada semua pihak dan para donatur. Tanpa dukungan dan sumbangsih semuanya, acara semeriah ini tidak akan terselenggara,” ujarnya.

Sebagai bagian dari rangkaian Bersih Desa, panitia juga membagikan doorprize melalui kupon undian khusus warga Yogyakarta Selatan. Hadiah yang disediakan antara lain kulkas, sepeda listrik, kipas angin, mesin cuci, dan lainnya.

Baca juga
Menembus Batas atau Sekadar Bertahan Hidup? Realita Pahit dan Potensi UMKM di Pasar Internasional