Jalur Maut Proyek Peralihan Jembatan Bukwedi, Legislator PPP Aris Ubaidillah Kecam Pemkot

Redaksi
Oplus_16908288

PASURUAN NewsCakra.com — Kebijakan pengalihan arus lalu lintas imbas proyek perbaikan Jembatan Bukwedi (BOK Wedi) yang menghubungkan Kecamatan Kraton dan Kecamatan Kebonagung kian membara. Jalur alternatif Jalan Gatot Subroto kini berubah menjadi “jalur maut” akibat disesaki kendaraan bertonase berat, memicu rentetan kecelakaan fatal yang merenggut beberapa nyawa warga, Sabtu (06/06/2026).

 

Kondisi infrastruktur di Kelurahan jalan Gatot Subroto ini dinilai warga sama sekali tidak layak dan tidak didesain untuk dilalui kendaraan raksasa. Setelah sebelumnya disuarakan oleh H. Hasan (Fraksi Golkar), kini kritik keras serupa dihantamkan oleh Anggota DPRD Kota Pasuruan dari PPP, H. Aris Ubaidillah.

 

Sebagai warga yang tinggal tepat di depan Jalan Gatot Subroto, H. Aris merasakan langsung semrawutnya lalu lintas harian selama dua bulan terakhir. Ia mengaku geram karena komunikasi taktis yang ia bangun dengan Wali Kota dan Ketua DPRD tak kunjung membuahkan hasil di lapangan.

 

“Pengalihan kendaraan besar ke jalan ini sangat mengganggu dan mengancam nyawa. Saya tahu sendiri dampaknya, anak saya kalau mau menyeberang jalan untuk mengaji saja harus menunggu hingga 15 sampai 20 menit karena arus kendaraan sangat padat dan melaju kencang,” keluh H. Aris melalui pesan suara (voice note).

 

Akibat lambannya respons pemerintah, H. Aris dan H. Hasan mengaku pasrah menjadi sasaran caci maki dan cemoohan konstituennya. Namun, ia menegaskan kepada beberapa warga yang mengadu kerumahnya, perwakilan RT, RW, dan tokoh masyarakat Krapyakrejo untuk melayangkan surat tuntutan resmi ke gedung dewan dengan menuntut komitmen realisasi pemindahan truk besar ke jalur tol, bukan sekadar wacana di atas kertas.

 

Warga sebelumya akan menutup jalan dapat diredam, namun jika korban jiwa kembali berjatuhan, H. Aris mempersilahkan turun ke jalan melakukan pemblokiran.

Baca juga
80 Tahun Merdeka, Wagub LIRA Jatim Kritik Lambannya Penyelesaian Sengketa Lahan TNI AL vs Warga

 

“Kami terima hinaan warga sebagai lecutan. Jika sampai ada kejadian fatal lagi dan warga memilih memblokir jalan, saya pribadi akan ikut turun kejalan demi warga,” tegasnya.

 

Dikonfirmasi melalui pesan singkat WhatsApp, Wali Kota Pasuruan, Dr. H. Adi Wibowo, S.T.P., M.Si., (Mas Adi), terkesan melempar bola panas tersebut ke instansi lintas sektoral. Ia berdalih bahwa proyek Jembatan Bukwedi merupakan program pemerintah pusat.

 

“Dishub saja, sampeyan konfirmasi juga ke Balai Jalan, kepolisian, dan kontraktornya. Itu proyek nasional. Jadi ini bukan hanya Pemkot saja, tapi mengkoordinasikan dengan Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional (BBPJN), Jasa Marga, Polres, dan kontraktor,” balas Wali Kota.

 

Mas Adi mengeklaim bahwa simulasi pengalihan arus sebenarnya sudah berjalan dengan mengarahkan kendaraan lewat Jalan Pahlawan (Pangsut) menuju Wironini.

Namun, berdasarkan pantauan riil di lapangan, rekayasa lalu lintas tersebut hanya bertahan satu hari pascainsiden kecelakaan maut yang menewaskan pasangan suami istri warga Krapyakrejo bulan lalu. Setelah itu, truk-truk bertonase besar kembali bebas menguasai Jalan Gatot Subroto.

 

Senada dengan keluhan anggotanya, Ketua DPRD Kota Pasuruan mengakui adanya kebuntuan realisasi di tingkat eksekutor lapangan.

 

“Saya sudah menyampaikan ke dinas terkait soal beberapa insiden maut di Jalan Gatot Subroto. Selayaknya dipakai satu jalur saja untuk mengurangi kepadatan. Namun, sampai sekarang belum ada realisasi pengalihan arus tersebut,” tandas Ketua DPRD kecewa.

 

Hingga berita ini diturunkan, baik Dinas Perhubungan (Dishub) maupun Satlantas Polres Pasuruan Kota kompak bungkam dan belum memberikan keterangan resmi terkait evaluasi total zonasi “jalur maut” tersebut.

Penulis: GhanaEditor: Red