Kritik Pedas Aktivis terhadap Kepemimpinan Kota Pasuruan

Redaksi

Kota Pasuruan, Cakra.or.id – Di sebuah warung kopi di kawasan Poncol, Kota Pasuruan, Saiful Arif dan Ayik Suhaya, dua aktivis yang dikenal vokal, bertemu untuk membahas isu yang cukup serius: kinerja kepemimpinan daerah yang mereka nilai belum membawa perubahan berarti bagi warga.

 

Diskusi dimulai dengan pertanyaan Ayik, “Apa pendapatmu tentang era ini? Dan apa tindakan nyata yang sudah mereka lakukan?” Senin (18/8/25) siang

 

Saiful menjawab dengan singkat namun penuh makna, “Seolah-olah saya tidak mempunyai Bapak.” Kalimat itu membuat Ayik terdiam. Saiful menjelaskan bahwa ia merasa warga Pasuruan seperti anak yatim, dibiarkan berjuang sendiri tanpa arahan dan kasih sayang dari pemimpin. Ia melihat warga harus mencari jalan mereka sendiri tanpa bimbingan.

 

Ayik menambahkan, kebijakan yang dibuat pemerintah terasa jauh dari harapan dan tidak menyentuh kehidupan nyata masyarakat. “Ini kritik keras,” tegas Ayik.

 

“Seorang pemimpin harusnya pro-rakyat. Janji-janji visi dan misi harus ditepati, dan mereka harus turun langsung menemui warganya.” Ia juga menyinggung tentang rumah dinas yang seharusnya menjadi tempat terbuka bagi warga.

 

Dalam diskusi itu, ada beberapa isu spesifik yang menjadi sorotan utama:

– Kenaikan Pajak Bumi Bangunan (PBB): Menurut Ayik, kenaikan pajak yang signifikan ini jelas memberatkan dan menyengsarakan rakyat Kota Pasuruan.

– Jalur Lingkar Utara (JLU): Ayik menilai proyek JLU “ambigu dan sangat tidak menguntungkan masyarakat.” Ia menganggap kebijakan yang dimulai sejak tahun 2010 hingga 2025 ini sangat merugikan dan hanya menghambur-hamburkan uang rakyat.

– Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM): Ayik mempertanyakan kerugian yang dialami PDAM padahal sudah mendapat subsidi. Ia menuntut kejelasan terkait pelayanan yang tidak maksimal dan pipa-pipa yang rusak.

Baca juga
Kapolda Jatim Lepas 24 Personel Ikuti Kejuaraan Internasional World Police And Fire Games Open Tournament di Amerika Serikat

 

“Kenapa tidak langsung turun ke lapangan untuk melihat ada apa dan kenapa dengan PDAM?” herannya.

 

Secara keseluruhan, diskusi ini menyoroti kekecewaan mendalam dari kedua aktivis tersebut terhadap kepemimpinan yang mereka rasa tidak pro-rakyat dan gagal menepati janji.

 

Saiful dan Ayik berharap kritik ini menjadi cambuk agar para pemimpin kembali mengingat janji-janji mereka. Untuk menindaklanjutinya, mereka berencana untuk melakukan aksi damai.

 

“Dalam waktu dekat, kami akan menggelar aksi damai di depan kantor Walikota Pasuruan untuk menuntut kejelasan dan tindakan nyata,” tegas Saiful. “Kami akan terus menyuarakan aspirasi dan melakukan protes damai hingga permasalahan ini mendapat perhatian serius dari pemerintah kota,” tandasnya.

Penulis: GhanaEditor: Red