Perhutani KPH Pasuruan Gelar Konsultasi Publik Reidentifikasi HCV 2026 demi Kelestarian Hutan

Redaksi
Oplus_16908288

PASURUAN, newscakra.com — Perum Perhutani KPH Pasuruan menggelar Konsultasi Publik Reidentifikasi High Conservation Value (HCV) atau Nilai Konservasi Tinggi (NKT) Tahun 2026 di kawasan wisata Tanaria Park, Desa Lumbangrejo, Kecamatan Prigen, Pasuruan, Kamis (8/10/2026).

 

Kegiatan strategis ini dihadiri jajaran pemangku kepentingan (stakeholder) lintas sektor. Di antaranya perwakilan Cabang Dinas Kehutanan Lumajang dan Nganjuk, Balai Besar TN Bromo Tengger Semeru, UPT Tahura R. Soerjo, Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Pasuruan dan Mojokerto, Dinas Kebudayaan, Kepemudaan, Olahraga dan Pariwisata Mojokerto, serta BPBD Pasuruan dan Mojokerto. Turut hadir Forkopimcam, para kepala desa dari Kecamatan Prigen, Tosari, Gondang, dan Trawas, Pemerhati Lingkungan Cempaka Foundation, Ormas Formasy Praja Nusantara (FPN), LMDH se-wilayah KPH Pasuruan, serta insan media Pasuruan-Malang.

 

Administratur KPH Pasuruan, Munawar Sukowati, menegaskan pentingnya kolaborasi dan sinergi bersama. Menurutnya, HCV merupakan nilai biologis, ekologis, sosial, maupun budaya yang memiliki kepentingan luar biasa di kawasan hutan.

 

“HCV tidak hanya soal hutan yang masih alami, melainkan bisa berupa habitat satwa langka, ekosistem penting, sumber mata air, situs budaya dan religi, hingga sumber kehidupan masyarakat,” jelas Munawar.

 

Ia menambahkan, tujuan konsultasi publik ini adalah memberikan pemahaman mengenai NKT 1 hingga NKT 6, menggali informasi lokal, mengidentifikasi ancaman, serta membangun kesepahaman pengelolaan dan pemantauan agar nilai konservasi tetap terjaga. Agenda ini juga mencakup identifikasi kebutuhan dasar masyarakat seperti air bersih, pangan, protein, hingga tanaman obat.

 

Mewakili Kepala Cabang Dinas Kehutanan Nganjuk, Suminta, menyampaikan bahwa peran stakeholder sangat vital. Peran tersebut mencakup pemberian informasi terkait satwa, tumbuhan, mata air, dan situs budaya, pelaporan jika terjadi kebakaran, perburuan, atau pencemaran, serta partisipasi aktif dalam penanaman pohon, perlindungan mata air, dan pencegahan kebakaran hutan.

Baca juga
KH Miftachul Akhyar Kembali Terpilih Menjadi Rais Aam PBNU Periode 2026–2031

 

Apresiasi turut disampaikan Ketua LMDH Bumi Lestari Mulyorejo, Kasiman. Ia menilai sosialisasi ini memberikan kejelasan peran LMDH dalam menjaga kelestarian kawasan. Pihaknya telah menjaga sejumlah mata air dan membuat percontohan kawasan konservasi, serta siap meningkatkan peran demi keberlanjutan hutan yang bermanfaat bagi masyarakat.

 

Sementara itu, Ketua Umum Ormas Formasy Praja Nusantara (FPN), Dodik Purwoko, mengapresiasi pemaparan komprehensif mengenai NKT 1 hingga NKT 6 dari Adm KPH Pasuruan.

 

“Kelestarian air, hutan, dan tersedianya oksigen adalah hak dan tanggung jawab kita bersama sebagai anak bangsa yang berbudaya, berbangsa, dan bernegara Indonesia. Ini adalah wujud bakti kepada negeri dan pengabdian kepada kehidupan,” tegas Dodik, yang hadir didampingi Koordinator Badan Pekerja Dewan Majelis Nasional FPN Ust. Zainullah Anwar serta Manager Area BP FPN Edy Suyanto.

 

Dihubungi secara terpisah via telepon seluler, Kepala Bakorwil III Malang, Asep Kusdinar, menyambut baik ajakan kolaborasi bersama Ormas Formasy Praja Nusantara dan para mitra dalam mendukung kegiatan pelestarian.

 

“Langkah ini penting demi tersedianya pemenuhan kebutuhan air, energi terbarukan, dan hutan lestari demi terciptanya Jawa Timur Subur Jawa Timur Makmur, seiring dengan tema HUT Jawa Timur yaitu Adil, Makmur, dan Berkelanjutan,” tandasnya.

 

Melalui forum konsultasi publik ini, Perhutani KPH Pasuruan berharap terbangun kolaborasi nyata antara pemerintah, LMDH, ormas, dan masyarakat untuk menjaga HCV demi kelestarian lingkungan secara berkelanjutan.

Penulis: EdEditor: Red