PASURUAN newscakra.com — Pelestarian batik kini tak lagi sebatas menjaga ragam motif di atas kain, melainkan mentransfer nilai dan sejarahnya ke generasi muda. Komitmen ini diwujudkan Pemerintah Kota Pasuruan melalui Workshop Seni Budaya Pelatihan Membatik 2026 yang melibatkan 90 guru SD dan SMP negeri maupun swasta, di Gedung Kesenian Darmoyudho, Selasa (22/9/2026).
Membuka agenda yang diinisiasi Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Pasuruan tersebut, Wakil Ketua Dekranasda Kota Pasuruan, Fitri Iswarida Nawawi, menekankan peran strategis pendidik. Menurutnya, guru adalah agen kunci yang mampu mengenalkan batik secara kontekstual dan adaptif kepada para siswa.

“Batik bukan sekadar bentangan kain dan susunan motif. Ia adalah rekam jejak sejarah, perwujudan filosofi, serta simpul identitas budaya bangsa yang harus terus dihidupkan,” ujar Fitri.
Senada dengan hal tersebut, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Pasuruan, Siti Rochana, menegaskan bahwa luaran (output) dari workshop ini tidak berhenti pada penguasaan teknik dasar. Para peserta didorong untuk mengintegrasikan keterampilan ini ke dalam kurikulum pembelajaran di sekolah masing-masing.
Workshop ini menghadirkan akademisi Desain Mode Batik Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta, Danang Priyanto, sebagai narasumber utama. Materi yang disajikan mencakup fondasi membatik, teknik eksplorasi motif, hingga strategi mengaitkan seni batik dalam mata pelajaran Seni Budaya.
Melalui program ini, Pemkot Pasuruan memproyeksikan lingkungan sekolah sebagai laboratorium kreativitas. Diharapkan dari ruang kelas inilah kelak lahir karya dan motif batik baru yang memperkuat karakter serta identitas khas Kota Pasuruan.






