Kepemimpinan Kota Pasuruan Dapat Rapor Merah: Tomas Beri Nilai 3 dan Desak Wali Kota Mundur

Redaksi
Kanan: Ayi Suhaya, Ridho Wijaya, H Hanafi diskusi publik (foto: Ghana News Cakra)

KOTA PASURUAN NewsCakra.com — Kritikan pedas kembali menerpa jalannya roda pemerintahan Kota Pasuruan. Sejumlah tokoh berpengaruh dan aktivis secara terbuka memberikan rapor merah terhadap kinerja birokrasi yang dinilai gagal memenuhi ekspektasi publik. Sektor kesehatan, infrastruktur, hingga kebijakan sosial menjadi poin utama yang disorot dalam diskusi publik, Selasa (17/02/2026).

Tokoh masyarakat H. Hanafi, pengamat politik Ridho Wijaya, dan Wagub LIRA Jatim Ayi Suhaya, S.H., secara kompak memberikan angka 3 dari 10, sebuah penilaian sangat rendah bagi kepemimpinan saat ini.

Ia mengungkapkan kekecewaannya terhadap pelayanan di RSUD dr. R. Soedarsono yang dinilai diskriminatif. Ia menyebut penanganan pasien masih dibedakan berdasarkan status ekonomi.

“Sangat memprihatinkan, penanganan awal langsung ditanya pakai BPJS atau Umum. Jika BPJS disuruh menunggu, kalau Umum langsung ditangani. Ini menunjukkan amburadulnya pelayanan kesehatan kita,” tegas Hanafi.

Keluhan senada menyasar layanan PDAM yang macet selama berbulan-bulan tanpa solusi konkret. Hanafi menyebut air hanya keluar kecil pada siang hari, sementara pagi dan sore mati total. Ia juga mengkritisi pembangunan infrastruktur drainase yang buntu dan tak terurus, serta sulitnya akses warga untuk menemui pimpinan daerah guna menyampaikan aspirasi.

Terkait isu pendidikan, H. Hanafi menyarankan agar program Makan Bergizi Gratis (MBG) dikaji ulang secara mendalam mengingat adanya risiko kesehatan seperti kasus keracunan yang marak diberitakan. “Daripada MBG, masyarakat jauh lebih membutuhkan sekolah gratis secara total. Itu lebih dirasakan manfaatnya tanpa risiko kesehatan,” tambahnya.

Ridho juga menilai, kepemimpinan saat ini seolah tidak memberikan jawaban atau solusi nyata terhadap masalah-masalah teknis yang mengganggu kenyamanan dan keselamatan warga.

Secara khusus, Ridho Wijaya mengeluhkan kondisi “hutan kabel WiFi” yang dibiarkan melintang tidak beraturan dan semrawut. Salah satu titik yang paling memprihatinkan menurutnya berada di wilayah Kelurahan Wirogunan.

Baca juga
DPRD Dorong Pemkot Pasuruan Segera Hibahkan Lahan MIN 2 ke Kemenag

“Kita lihat saja faktanya, sampai sekarang tidak ada tindakan apa-apa dari pemerintah. Kabel-kabel WiFi dibiarkan semrawut, salah satunya di wilayah Wirogunan. Ini bukan hanya soal keindahan kota, tapi juga menyangkut keamanan warga yang melintas,” ungkap Ridho.

Wagub LIRA Jatim, Ayi Suhaya, S.H., membandingkan era kepemimpinan saat ini dengan masa kejayaan pemimpin terdahulu seperti Aminurokhman dan almarhum H. Hasani yang dinilai lebih merakyat. Ia menekankan bahwa pemimpin seharusnya meneladani sifat Nabi Muhammad SAW yang senantiasa memikirkan nasib umatnya hingga ke tingkat bawah.

“Zaman sekarang, pemimpin tidak pernah terlihat turun ke bawah untuk sekadar ngopi bersama warga atau mengetuk pintu rumah rakyat di malam hari untuk mengecek kondisi mereka. Kebijakannya sering kali tidak pro-rakyat,” ujar Ayi.

Ayi juga mencontohkan proyek Jalan Lingkar Utara (JLU) yang mangkrak selama 15 tahun sebagai bukti kebijakan yang tidak efektif. Ia menyarankan agar anggaran sebesar itu lebih baik dialokasikan untuk pemberdayaan UKM dan PKL.

“Jika Wali Kota tidak mampu menjalankan roda pemerintahan yang pro-rakyat, silakan mengundurkan diri dari jabatannya. Kami butuh bukti nyata, bukan sekadar seremoni,” pungkas Ayi Suhaya dengan tegas.

Ghana