Sholawat Badar: Lantunan Langit dari Jemari Ulama Nusantara

Redaksi
Ilustrasi oleh: Saichu

OPINI, NewsCakra.com – Di balik kemerduan bait-bait “Shalaatullaah Salaamullaah, ‘Alaa Thaaha Rasuulillaah” yang menggema di seluruh pelosok nusantara, tersimpan sebuah narasi besar tentang ketulusan, persaudaraan, dan karomah para kekasih Allah. Sholawat Badar bukan sekadar susunan diksi pujian, ia adalah kristalisasi spiritual yang lahir dari pergolakan batin dan sejarah bangsa Indonesia.

 

Lahir di Banyuwangi pada era 1960-an, Sholawat Badar merupakan buah karya agung Mbah Kyai Ali Manshur Shiddiq. Kala itu, di tengah situasi politik tanah air yang tak menentu, Mbah Ali Manshur menggubah bait-bait ini sebagai perisai langit. Beliau bertawasul melalui kemuliaan para pejuang Perang Badar, memohon perlindungan bagi umat dan bangsa.

 

Namun, keindahan Sholawat Badar tidak berhenti pada goresan pena Mbah Ali Manshur saja. Ada sentuhan spiritual yang mendalam dari Mbah Kyai Abdul Hamid Pasuruan, sang sepupu dari istri Mbah Ali Manshur, Nyai Hj. Nafisah. Dalam khazanah lisan para santri, diyakini bahwa Mbah Kyai Hamid turut menyempurnakan bait-bait tersebut melalui jalur langit, sebuah dialog batin yang konon bermuara langsung pada restu Baginda Rasulullah SAW.

 

Sinergi dua ulama besar ini menciptakan frekuensi spiritual yang dahsyat. Tak heran jika kemudian Habib Ali Kwitang, Jakarta, menjadi sosok pertama yang mempopulerkan sholawat ini hingga melintasi batas-batas geografis dan ormas. Sholawat Badar pun bertransformasi dari sekadar wirid pesantren menjadi lagu kebangsaan spiritual umat Islam Indonesia.

 

Mengenang Mbah Kyai Ali Manshur Shiddiq yang wafat pada 26 Muharram 1392 H (24 Maret 1971), kita tidak hanya mengenang seorang penggubah syair. Di makamnya yang tenang di Tuban, di samping peristirahatan istrinya Mbah Nyai Khatimah, tertitip pesan bahwa sebuah karya yang dibuat dengan keikhlasan akan abadi melampaui usia penciptanya.

Baca juga
Aksi Humanis Satpolairud Polres Situbondo: Bantu Pikul Barang Santri yang Mudik di Pelabuhan Jangkar

 

Kini, setiap kali Sholawat Badar dilantunkan, ada sanad doa yang mengalir kepada Mbah Ali Manshur, Mbah Kyai Hamid, Nyai Hj. Nafisah, dan Nyai Hj. Khatimah. Mereka adalah arsitek di balik ketenangan hati kita saat memuji sang Nabi. Sholawat ini adalah bukti nyata bahwa ketika pena seorang ulama digerakkan oleh cinta kepada Rasulullah, maka ia akan menjadi warisan yang takkan lekang oleh zaman.

 

Sudah selayaknya kita, generasi hari ini, tidak hanya sekadar hafal nadanya, tetapi juga memahami kedalaman maknanya: bahwa dalam setiap kesulitan, ada “Ahli Badar” yang bisa kita jadikan wasilah untuk mengetuk pintu rahmat-Nya.

Penulis: SaichuEditor: Red