Mengusap Keringatnya Dulu, Kini Menelan Luka

Redaksi

Newscakra.com – Gerimis tipis mengguyur kawasan Arjasa, Situbondo, sore itu. Di balik jendela rumah mewahnya yang berdiri megah, Bunga menatap dedaunan basah dengan pandangan hampa. Di bangunan sehebat ini, kesunyian justru terasa begitu menggigit, menembus sampai ke celah-celah dadanya yang sesak.

Bunga mengingat betul bagaimana semua ini bermula Beberapa tahun lalu, ketika kata “sukses” bahkan belum pernah terlintas dalam benak mereka.

Kala itu, ia dan Jaka, pria yang dahulu berjanji menjaganya hingga usang, hanya memiliki satu sama lain. Mereka Bunga berdiri setia di samping Jaka. Saat usaha mereka diterpa guncangan hebat dan modal menguap, Bunga tak pernah sepatah kata pun mengeluh. Dialah yang memangkas semua keinginannya, menahan lapar demi menghemat setiap rupiah, dan mengusap keringat Jaka saat pria itu hampir menyerah pada garis hidup.

Keringat dan air mata itu akhirnya terbayar. Usaha yang mereka rintis berdarah-darah bertumbuh pesat hingga berbuah kejayaan. Tak hanya roda ekonomi yang berputar manis, kebahagiaan mereka seolah sempurna ketika tangis seorang bayi mungil hadir di tengah keluarga. Kehadiran sang buah hati menjadi pilar penguat bahtera rumah tangga yang mereka bangun dari puing-puing kemiskinan.

Namun, ujian kemiskinan adalah kesabaran, sedangkan ujian kekayaan adalah kesetiaan.

Saat harta melimpah dan pujian orang mengalir deras, Jaka perlahan berubah. Kehangatan yang dulu menyambut Bunga setiap malam berganti dingin dan keangkuhan. Kesibukan dijadikan benteng untuk menjauh. Badai pertama menghantam saat Bunga menemukan jejak wanita lain dalam hidup suaminya. Demi utuhnya keluarga dan masa depan buah hatinya, Bunga memilih menelan batin, memaafkan, dan memeluk lukanya sendiri. Ia memilih percaya pada janji manis Jaka yang bersumpah tidak akan mengulangi kesalahan yang sama.

Baca juga
Skandal Bonus Atlet Pasuruan: GM-FKPPI Kirim Karangan Bunga "Duka Cita" dan Galang Koin untuk Pahlawan Olahraga

Sayangnya, pengorbanan dan pengampunan yang tulus justru dianggap sebagai kelemahan.

Pengkhianatan itu berulang, kali ini dengan sembilu yang jauh lebih tajam. Rumor yang berembus di Arjasa akhirnya terkuak secara telanjang: Jaka telah menjalin hubungan gelap dan menikah siri dengan wanita lain. Wanita yang dulu memeluk Jaka saat tak punya apa-apa, kini disingkirkan begitu saja setelah istana berdiri megah.

Puncak dari kekejaman ini tiba ketika Jaka, tanpa rasa iba sedikit pun, melayangkan gugatan cerai. Tak ada penyesalan, tak ada dialog, hanya kehendak sepihak dari seorang pria yang telah buta oleh harta dan nafsu. Pria yang dulu merangkak bersamanya kini melangkah pergi tanpa pernah menoleh ke belakang.

Di sudut kamar yang samar, jemari kecil menghampiri Bunga. Anak semata wayang mereka mengusap lembut air mata yang menetes deras di pipi sang ibu. Usapan hangat itu seketika menembus pekatnya rasa sakit.

Bunga tersadar. Ia memang telah kehilangan seorang suami yang lupa cara bersyukur, tetapi ia tidak boleh kehilangan dirinya sendiri. Dibuang saat berada di puncak memang memilukan, namun ketegaran yang menempa dirinya sejak dari “nol” adalah jiwa yang tak akan pernah bisa dihancurkan oleh siapa pun.

Dengan dada yang masih bergemuruh namun pandangan yang mulai tajam dan mantap, Bunga merengkuh erat buah hatinya. Badai hukum dan kenyataan pahit di depan mata akan ia hadapi dengan kepala tegak—bukan demi pria yang telah membuangnya, melainkan demi masa depan sang anak dan harga dirinya sebagai seorang wanita yang tak pernah mengkhianati janji.