Gus Lilur Kembali Tegaskan Slogan “Ber-NU Tanpa Ber-PBNU” Pasca Muktamar Jombang

Redaksi
CREATOR: gd-jpeg v1.0 (using IJG JPEG v62), default quality?

NEWS CAKRA — Tokoh warga Nahdlatul Ulama (NU), HRM. Khalilur R. Abdullah S. (Gus Lilur), kembali menegaskan slogan kontroversialnya: “Ber-NU Tanpa Ber-PBNU”. Slogan ini sebelumnya pernah ia gaungkan pada Januari 2022 dan sempat menuai banyak kecaman, sebelum akhirnya dinamika internal pengurus pusat memvalidasi pandangannya.

“Dulu saat pertama kali saya memunculkan istilah ini Januari 2022, banyak orang mengecam dan menyinyiri saya. Saya hanya tertawa sambil bergumam, ‘Kalian belum tahu.’ Faktanya kemudian terbukti ketika para mandataris Muktamar ke-34 Lampung berseteru, saling buka borok, dan saling pecat hingga membuat warga NU malu,” ujar Gus Lilur, Senin (14/9/2026).

Pasca pelaksanaan Muktamar ke-35 NU di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambak Beras, Jombang, Jawa Timur, Gus Lilur mendapati gagasannya justru disambut antusias oleh arus bawah dengan berbagai variasi slogan serupa, seperti Ber-NU selamanya ber-PBNU sekedarnya, Ber-NU saklawase ber-PBNU sak cukupè, hingga Ber-NU saklawasè ber-PBNU sekedarè.

Menurut Gus Lilur, penolakannya terhadap struktur kepengurusan PBNU didasarkan pada prinsip esensial beragama. Bagi seorang warga NU sejati, identitas keagamaan berpijak pada tiga pilar utama ajaran Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja):

• Bermadzhab secara fikih mengikuti Imam Syafi’i.
• Berakidah dalam tauhid mengikuti Imam Al-Asy’ariy dan Al-Maturidi.
• Bertasawuf mengikuti Imam Junaid Al-Baghdadi dan/atau Imam Al-Ghazali.

“Mengamalkan tiga cara beragama sesuai ajaran NU di atas tidak perlu harus ber-PBNU. Para kyai alim NU di akar rumput sudah mengajarkan kami hal tersebut sejak lama,” tegasnya.

Alasan fundamental lain di balik penolakan terhadap struktur PBNU adalah penilaian Gus Lilur terhadap kapasitas kepemimpinan puncak. Ia menilai figur Rais Aam PBNU saat ini jauh dari kriteria ulama alim (mendalam ilmu agamanya).

Baca juga
Delapan Gudang BBM Ilegal di Tanjung Bintang Disorot, Warga Desak Aparat Bertindak

Sebagai bukti atas argumen tersebut, Gus Lilur mengaku pernah menginisiasi pembuatan dua video analisis kritis oleh anak tingkat Ibtidaiyah bernama Siti. Video tersebut membedah dan mengomentari dua pidato resmi Rais Aam PBNU, Kyai Miftahul Akhyar, yakni pada saat penutupan Munas-Konbes NU di Bangkalan dan pembukaan Muktamar NU di Tambak Beras, Jombang.

“Video Siti tersebut adalah fakta dan bukti bahwa Rais Aam PBNU awam, tidak punya kapasitas, bahkan tidak layak disebut kyai melainkan ngiyai—berakting ala kyai. Sangat memalukan,” ungkap Gus Lilur tajam.

Ia juga mengenang kembali saat dirinya merilis temuan kesalahan fatal dalam pidato Rais Aam pada penutupan Konbes-Munas NU di Bangkalan ke sekitar 80 media massa nasional dengan sorotan utama terkait dugaan plagiasi dan kesalahan elementer dalam membaca teks Arab (pemasangan harakat).

Sebagai santri yang dibesarkan di bawah didikan para kyai alim di lingkungan NU, Gus Lilur menyatakan sikap tegasnya untuk menolak kepemimpinan struktur formal yang dinilai tidak mumpuni secara keilmuan.

“Karena Rais Aam-nya awam, saya yang berguru pada banyak kyai alim di NU menolak dipimpin oleh figur yang tidak memenuhi kriteria keilmuan pesantren. Mari terus merawat tradisi ke-NU-an secara mandiri,” pungkasnya menutup pernyataan dengan salam Amar Makruf Nahiy Mungkar.

Penulis: HalimaEditor: Red