Newscakra.com – Menyambut pelaksanaan Muktamar Nahdlatul Ulama (NU), tokoh Nahdliyin, HRM Khalilur R Abdullah Sahlawiy atau akrab disapa Gus Lilur, menyuarakan keprihatinan mendalam. Ia menilai, muktamar kali ini bukan sekadar agenda rutin, melainkan momen penentu arah organisasi: apakah tetap berjalan di atas rel keulamaan, atau justru semakin terperangkap dalam pusaran politik praktis.
“NU lahir dari rahim keilmuan dan akhlak yang dibangun oleh para ulama besar, bukan diciptakan untuk menjadi alat kepentingan kekuasaan semata,” ujar Gus Lilur dalam keterangannya, Senin (14/04).
Ia menilai, batas antara organisasi keagamaan dan dunia politik kini semakin kabur. Munculnya figur-figur yang lebih identik dengan panggung politik dalam dinamika internal NU, menurutnya, menjadi sinyal bahaya yang harus dikoreksi. Bahkan, ia menilai kepemimpinan saat ini perlu dievaluasi secara objektif demi kemaslahatan jam’iyah ke depan.
“Ini bukan masalah personal, tapi soal marwah dan harga diri organisasi. NU harus dijaga agar tidak berubah menjadi panggung politik. Jika dibiarkan, kepercayaan umat perlahan akan hilang,” tegasnya.
Gus Lilur juga menyoroti fenomena yang ia sebut sebagai “gus-gus nanggung”, di mana sebagian pihak menjadikan NU hanya sebagai alat legitimasi untuk kepentingan pribadi atau kelompok. Ia menyayangkan jika pengurus lebih sibuk membangun jejaring kekuasaan daripada mengokohkan basis keilmuan dan kaderisasi.
“Kita memiliki tradisi besar, pesantren, dan bahtsul masail. Namun ironisnya, yang sering tampil ke depan bukanlah yang paling alim, melainkan yang paling dekat dengan kekuasaan,” kritiknya.
Menurutnya, NU sesungguhnya sangat kaya akan tokoh berkaliber tinggi. Ia menilai ada banyak figur yang jauh lebih layak dan kredibel untuk memimpin, yang memiliki kapasitas keulamaan dan intelektualitas jelas.
“Lihatlah kualitas mereka seperti Nasaruddin Umar, Said Aqil Siradj, Abdus Salam Shohib, Yusuf Chudlory, Zulfa Mustofa, hingga Bahauddin Nursalim. Keilmuan dan intelektualitas mereka tidak perlu diragukan lagi. Jangan sampai NU hanya dilingkari figur itu-itu saja karena faktor politik,” paparnya.
Gus Lilur menuntut agar Muktamar kali ini menjadi momen pemurnian. Ia berharap para kiai dan ulama memiliki keberanian moral untuk memilih pemimpin yang lahir dari tradisi keilmuan, bukan karena kepentingan elektoral.
“Sudah waktunya kita berkata cukup. NU bukan batu loncatan politik. Jika ingin berpolitik, silakan lakukan di partai, jangan seret nama NU ke dalamnya,” tandasnya.
Lebih jauh, ia mengingatkan bahwa independensi adalah nyawa bagi NU. Organisasi ini harus tetap menjadi penyejuk dan penuntun umat, bukan menjadi bagian dari kepentingan kekuasaan tertentu.
“Prinsipnya jelas: NU harus berdiri di atas semua golongan, bukan menjadi bagian dari satu kepentingan. Itu yang harus kita jaga,” tambahnya.
Ia mendorong agar fokus organisasi kembali kepada penguatan ekosistem intelektual, mulai dari pesantren hingga pengembangan pemikiran Islam yang relevan dengan zaman.
“NU yang kuat di ilmu akan otomatis dihormati. Namun jika NU sibuk urusan politik, lambat laun hanya akan menjadi alat yang diperalat,” ujarnya.
Di akhir pernyataannya, Gus Lilur menegaskan bahwa Muktamar ini adalah ujian sejarah. Pilihan yang diambil akan menentukan nasib organisasi dan umat ke depannya.
“Ini soal masa depan, bukan sekadar hari ini. Apakah kita mau kembali ke jalan ulama, atau terus terseret arus kekuasaan? Itulah yang sedang dipertaruhkan,” pungkasnya.






