Jerit Tangis di Senja Sungai Welang: Rekreasi Berujung Maut, Bocah Kembar Terpisah Takdir

Redaksi
Oplus_16908288

PASURUAN newscakra.com — Langit senja di Kelurahan Karangketug, Kecamatan Gadingrejo, Kota Pasuruan, mendadak berubah kelam pada Kamis, 5 November 2026. Alih-alih gelak tawa riang anak-anak yang biasa menghiasi sore hari, suasana di tepian Sungai Welang seketika berubah menjadi lautan air mata, kepanikan, dan isak tangis histeris.

 

Tiga bocah laki-laki yang tengah menikmati waktu bermain harus berhadapan dengan ganasnya arus Sungai Welang. Sebuah petaka yang merenggut nyawa dan menyisakan duka mendalam bagi keluarga yang ditinggalkan.

 

Pukul 17.00 WIB, jarum jam seolah bergerak begitu cepat. Bersama teman-teman sebaya mereka, hari itu seharusnya menjadi momen bermain yang menyenangkan bagi Muhammad Al Fahri Putra Syarifudin, kembarannya Muhammad El Fahmi Putra Syarifudin, serta rekan mereka Afrizal Dimas Ibrahim (8). Ketiganya asyik melangkah menuju aliran Sungai Welang di Jalan Gatot Subroto, sebuah tempat yang menyimpan bahaya tersembunyi di balik tenangnya air.

 

Tanpa disadari oleh siapapun, keceriaan itu berubah menjadi mimpi buruk. Ketiga anak kecil ini terjebak di dalam air tanpa kemampuan berenang yang memadai. Kurangnya pengawasan di detik-detik krusial tersebut membuat jerit minta tolong mereka nyaris tenggelam di antara derasnya aliran sungai.

 

Warga sekitar yang mendengar kepanikan segera bertindak cepat. Dalam waktu singkat, Afrizal Dimas Ibrahim berhasil dievakuasi dalam keadaan selamat dan langsung dilarikan ke RS Medika sebelum akhirnya diizinkan pulang ke rumah. Namun, nasib berkata lain bagi dua bocah kembar berusia 7 tahun tersebut.

 

Pukul 17.10 WIB, laporan darurat berdering di Polsek Gadingrejo. Petugas piket kepolisian bergerak kilat, meluncur membelah jalanan menuju Tempat Kejadian Perkara (TKP) hanya dalam hitungan menit.

 

Setibanya di lokasi, situasi sudah sangat mencekam. Dua anak telah ditemukan satu selamat, sementara satu lagi masih hilang di dalam air. Warga dan petugas berpacu dengan waktu, berdoa agar keajaiban datang.

Baca juga
Sengketa Tanah Warisan Berujung Carok di Kalisat: Satu Tewas Jelang Mediasi

 

Tak lama berselang, armada Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Pasuruan tiba di lokasi. Di bawah pencahayaan seadanya dan ketegangan yang menyelimuti warga yang berkerumun di bibir sungai, tim penyelam langsung terjun menyisir setiap sudut gelap Sungai Welang.

 

Pukul 18.30 WIB, penantian penuh doa itu terjawab dalam kesedihan yang utuh. Korban Muhammad El Fahmi Putra Syarifudin berhasil ditemukan. Tubuh kecilnya sudah terkulai lemas. Ia segera dilarikan ke RS Medika, namun takdir berkata lain, tim medis menyatakan nyawanya sudah tidak tertolong.

 

Tragedi ini menyisakan luka yang mengoyak hati keluarga, terutama bagi sang kembaran yang harus berpulang mendahului, serta keluarga yang kini harus merawat El Fahmi yang masih menjalani perawatan intensif di rumah sakit.

 

Dari balik garis polisi dan keheningan malam di Karangketug, sebuah kesimpulan pahit mencuat: keterbatasan kemampuan berenang serta luputnya pengawasan orang tua di jam-jam rawan menjelang petang telah merenggut nyawa tak berdosa dalam sekejap.

 

Sungai Welang sore itu telah merenggut tawa, meninggalkan kesunyian dan duka yang teramat sangat di hati keluarga besar Al Fahri dan El Fahmi. Sebuah pengingat pilu bahwa kelalaian sedetik di dekat air bisa merenggut segalanya untuk selamanya.

Laporan: Polsek Gadingrejo (Kapolsek KOMPOL Wargo Sukwandi, S.H.)

Penulis: HsnEditor: Red