KABUPATEN BANDUNG
newscakra.com – Harga daging ayam potong (broiler) di sejumlah daerah di Indonesia terpantau mengalami kenaikan signifikan pada awal Agustus 2026. Berdasarkan pantauan riil di lapangan, harga ayam ras segar di tingkat konsumen kini menembus kisaran Rp. 40.000 hingga Rp. 45.000 per kilogram, melompat jauh dari harga normal sebelumnya di kisaran Rp30.000 hingga Rp. 33.000 per kilogram.

Kenaikan tajam ini dipicu oleh akumulasi peningkatan permintaan pasar dari masyarakat umum, aktivitas pariwisata yang tinggi, serta masifnya penyerapan stok komoditas hulu untuk mendukung pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang kembali bergulir aktif setelah masa libur sekolah.
Faktor Utama Pemicu Kenaikan Harga
Meningkatnya Serapan Program MBG: Dapur umum penyedia Program Makan Bergizi Gratis menyerap daging ayam dalam skala masif secara bersamaan, sehingga mengurangi volume ketersediaan stok untuk konsumen umum di pasar tradisional.
Kenaikan Biaya Produksi di Hulu: Beban para peternak mandiri membengkak akibat lonjakan harga bibit ayam (Day Old Chick/DOC) dari Rp. 4.000 menjadi Rp. 6.500 per ekor. Di saat bersamaan, harga pakan ternak juga merangkak naik sekitar Rp. 1.000 per kilogram akibat ketergantungan bahan baku impor.
Panjangnya Rantai Distribusi: Adanya margin keuntungan yang terlalu tinggi di tingkat broker dan pedagang pasar membuat harga jual bersih di tingkat konsumen melambung, meskipun harga live bird (ayam hidup) di tingkat kandang telah diatur pemerintah lewat harga acuan Rp. 19.500 per kilogram.
Dampak Nyata di Tingkat Pasar
Lonjakan harga ini menimbulkan dilema besar di sektor hilir. Asosiasi pedagang pasar mengeluhkan penurunan omzet harian secara drastis karena daya beli masyarakat yang belum sepenuhnya pulih. Pembeli rumah tangga terpaksa mengurangi kuantitas belanja mereka demi menyiasati anggaran belanja yang kian mencekik.

Rekomendasi Langkah Intervensi
Guna meredam gejolak harga pangan sepanjang bulan Agustus ini, pemerintah dan instansi terkait didesak segera melakukan langkah mitigasi taktis:
- Optimalisasi SPPG (Satuan Pelayanan Pengadaan Pangan): Memaksimalkan peran SPPG dalam menyerap hasil ternak lokal secara langsung dari peternak mandiri guna memotong mata rantai distribusi yang terlalu panjang.
- Intervensi Operasi Pasar: Mendorong BUMN Pangan (seperti Perum Bulog dan ID Food) untuk melakukan mobilisasi pasokan daging ayam dari wilayah surplus (seperti Jawa Barat) ke daerah-daerah yang mengalami defisit stok tinggi.
- Penyusunan Zonasi Pasar: Mengatur regulasi agar integrator besar tidak langsung melepas ayam hidup ke pasar tradisional, sehingga memberikan ruang proteksi bagi stabilitas usaha peternak mandiri.
- Pemerintah berkomitmen untuk terus memonitor pergerakan harga pangan strategis ini agar kesejahteraan peternak tetap terjaga tanpa harus mengorbankan keterjangkauan harga di tingkat meja makan konsumen.






