NEWS CAKRA, SITUBONDO — Pelaksanaan proyek peningkatan jalan ruas Trigonco–Bantal (R. 382) di Kecamatan Asembagus, Kabupaten Situbondo, menuai sorotan tajam publik. Proyek hotmix yang bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Tahun Anggaran 2026 senilai Rp492.770.258,37 ini diduga kuat jauh dari standar teknis akibat lemahnya fungsi pengawasan dari instansi terkait.
Pekerjaan Umum dan Perumahan Permukiman (PUPP) Bidang Bina Marga ini terbagi menjadi dua titik: Spot 1 sepanjang 50 meter dan Spot 2 sepanjang 231 meter. Namun, investigasi mendalam yang dilakukan oleh Heppy, seorang pemerhati infrastruktur sekaligus warga asli Situbondo, pasca-penyelesaian pekerjaan menemukan sejumlah indikasi penyimpangan krusial yang mengarah pada potensi kerugian keuangan negara.
Berdasarkan investigasi lapangan, Heppy menilai buruknya kualitas fisik konstruksi aspal tidak lepas dari biang keladi utama: lemahnya fungsi pengawasan (supervision). Baik dari unsur Konsultan Pengawas maupun Pejabat Pembuat Teknis Kegiatan (PPTK) Dinas PUPP Bidang Bina Marga Kabupaten Situbondo dinilai lepas tangan dan gagal menjalankan fungsi kontrolnya secara optimal.
Akibat mandulnya pengawasan di lapangan, pihak penyedia jasa (kontraktor pelaksana) diduga leluasa mengabaikan Standar Operasional Prosedur (SOP) teknis demi mengejar progres fisik semata, tanpa mengindahkan aspek mutu dan durabilitas jangka panjang.
“Uang negara yang bersumber dari pajak rakyat jangan sampai dijadikan ajang ‘bancakan’ segelintir pihak. Temuan di lapangan membuktikan bahwa Adanya Dugaan lemahnya pengawasan melahirkan mutu pekerjaan yang amburadul,” tegas Heppy.
Dari hasil investigasi pasca-pekerjaan, ditemukan beberapa indikasi penyimpangan mutu konstruksi yang mengancam usia pakai infrastruktur jalan tersebut:
• Dugaan Pengurangan Ketebalan Aspal: Berdasarkan pengukuran di lapangan pada Spot 1 dan Spot 2, ketebalan lapis aspal hotmix (Wearing Course) rata-rata hanya berada di kisaran 3,1 cm, jauh dari ketentuan spesifikasi teknis yang disyaratkan dalam Rencana Anggaran Biaya (RAB).
• Kualitas Density (Kepadatan) Rendah: Proses pemadatan (passing) dinilai tidak maksimal. Akibatnya, permukaan aspal terbentuk dengan tingkat pori atau rongga yang tinggi (air voids tinggi), yang menjadi jalan masuk air ke lapisan pondasi bawah.
• Ancaman Kerusakan Dini Jelang Musim Penghujan: Dengan struktur aspal berongga dan pemadatan yang cacat mutu, ruas jalan ini diprediksi tidak akan berumur panjang, terutama di tengah intensitas hujan yang mulai meningkat.
Melihat potensi kerugian negara yang cukup besar dari proyek ini, Heppy menyatakan telah mengantongi dokumen dan data lengkap hasil temuan investigasi lapangan. Dalam waktu dekat, pihaknya berencana melayangkan pengaduan resmi kepada Aparat Penegak Hukum (APH) agar dilakukan audit investigatif dan pengujian ulang melalui metode core drill (uji inti) guna memastikan ketebalan dan kepadatan aspal secara transparan.
Masyarakat Situbondo kini mendesak Dinas PUPP Kabupaten Situbondo untuk tidak bersikap pasif. Instansi terkait diminta segera memanggil CV Arrayan Group dan konsultan pengawas untuk dimintai pertanggungjawaban penuh, demi memastikan investasi infrastruktur daerah ini benar-benar memberikan manfaat nyata bagi mobilitas warga, bukan sekadar proyek seremonial yang lekas rusak.






