NEWS CAKRA, SITUBONDO – Proyek Pembangunan Jembatan Kampung Pesisir yang berlokasi di Desa Bletok, Kecamatan Bungatan, Kabupaten Situbondo, menjadi sorotan tajam publik.
Proyek yang dikerjakan oleh Arrayan Group dari Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Permukiman (PUPP) Bidang Bina Marga Kabupaten Situbondo dengan anggaran APBD 2026 sebesar Rp 184.214.717,48 tersebut dinilai dipaksakan dan minim perencanaan matang.
Berdasarkan hasil investigasi dan pantauan langsung awak media di lapangan, di ujung sisi barat jembatan, hampir setengah lebar badan jembatan terhalang oleh lahan warga. Terdapat bekas teras rumah milik warga yang pemiliknya melarang untuk dibongkar.
Kondisi ini menjadi bukti nyata bahwa pembangunan jembatan tersebut diduga tidak melalui survei lapangan yang detail dan perencanaan yang cermat sebelum pekerjaan dilaksanakan. Jembatan dibangun, namun aksesnya justru buntu oleh bangunan warga.
“Ini bukti perencanaannya tidak matang. Bagaimana jembatan mau difungsikan Secara Maksimal kalau ujungnya saja masih terhalang teras rumah warga? Seharusnya dibebaskan dulu lahannya, baru dibangun,” ujar salah seorang warga sekitar yang enggan disebutkan namanya.

Di lokasi, awak media menemukan pasangan batu sebagai penahan sisi jembatan (abutment) banyak yang berongga dan tidak padat. Adukan semen terkesan irit, sehingga celah antar batu terlihat jelas. Kondisi ini dikhawatirkan akan mengurangi kekuatan dan umur konstruksi jembatan
Petunjuk Teknis (Juknis) ini menguat akibat lemahnya fungsi pengawasan dari pihak Dinas PUPP Kabupaten Situbondo. Pengawas lapangan terkesan tutup mata dan membiarkan kontraktor bekerja asal jadi.
Padahal, dengan nilai anggaran Hampir 200 juta rupiah yang bersumber dari uang rakyat, seharusnya kualitas menjadi prioritas utama, bukan sekadar menggugurkan kewajiban proyek.
Atas temuan ini, warga Desa Bletok mendesak Dinas PUPP Kabupaten Situbondo untuk segera turun ke lapangan dan melakukan evaluasi total. Jangan sampai jembatan yang diharapkan menjadi penghubung vital bagi warga pesisir justru menjadi proyek mubazir
Hingga berita ini ditayangkan, awak media telah berusaha menghubungi pihak rekanan Arrayan Group untuk konfirmasi, namun belum ada respon.






