Perkuat Kemandirian Santri di Era Digital, Wapres Gibran Tinjau Pelatihan AI dan Robotik di Pasuruan

Redaksi
Oplus_16908288

NewsCakra.com — Wakil Presiden (Wapres) Gibran Rakabuming meninjau langsung pelatihan kecerdasan artifisial (Artificial Intelligence/AI) dan robotik bagi santri di Pondok Pesantren Darullughah Wadda’wah (PP Dalwa), Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur, Jumat (16/10/2026). Kegiatan ini merupakan langkah strategis untuk memperluas akses generasi muda terhadap penguasaan teknologi masa depan serta memperkuat kesiapan sumber daya manusia (SDM) Indonesia agar adaptif, inovatif, dan mandiri di tengah arus transformasi digital.

 

Dalam arahannya, Wapres menegaskan bahwa kesempatan mempelajari teknologi mutakhir harus terbuka bagi seluruh generasi muda, termasuk para santri. Tujuannya agar mereka dapat mengambil peran aktif dalam perkembangan teknologi global dan tidak sekadar menjadi pengguna. Sejak tahun 2025, Wapres secara konsisten mendorong kolaborasi lintas sektor untuk membuka kesempatan belajar langsung di industri bagi siswa SMK dan mahasiswa, serta memperluas akses pelatihan teknologi masa depan di lingkungan pesantren.

 

“Kita ingin ke depan, para santri ini juga akan dapat menjawab tantangan zaman. Jadi kita berpacu, jangan sampai ketinggalan dengan negara lain,” tegas Wapres.

 

Menurut Wapres, pembelajaran AI dan robotik tidak hanya bertujuan membekali santri dengan keterampilan teknis semata, melainkan juga membangun pola pikir kritis, kemampuan berpikir komputasional (computational thinking), serta keterampilan pemecahan masalah (problem solving). Kompetensi tersebut sangat esensial untuk menghadapi tantangan di berbagai sektor sekaligus membuka ruang bagi santri untuk berkontribusi dalam melahirkan inovasi di masyarakat.

 

“Mempelajari AI / robotic bukan berarti harus jadi programmer, tapi justru melatih berpikir kritis, berpikir komputasional, dan terbiasa melakukan problem solving,” urai Wapres.

 

Lebih lanjut, Wapres mendorong agar materi teknologi diterapkan secara praktis dan relevan dengan kebutuhan dunia kerja nyata. Melalui pengalaman belajar yang aplikatif, generasi muda diharapkan mampu memanfaatkan potensi teknologi guna meningkatkan efisiensi, produktivitas, dan kualitas hasil kerja, termasuk dalam merumuskan solusi atas berbagai persoalan di lingkungan sekitar.

Baca juga
Ombudsman RI Evaluasi Pelayanan Publik Kantor Pertanahan Tapanuli Selatan, Komitmen Bersama Cegah Maladministrasi

 

“Jadikan teknologi sebagai alat bantu untuk ciptakan inovasi & meningkatkan produktivitas,” tambah Wapres.

 

Di tengah pesatnya perkembangan dunia digital, Wapres juga mengingatkan bahwa peningkatan kecakapan teknologi harus berjalan beriringan dengan penguatan akhlak dan karakter. Para santri perlu dibekali kemampuan literasi digital yang baik untuk memilah informasi, mengenali hoaks, menjaga kerahasiaan data pribadi, serta menggunakan teknologi secara etis dan bertanggung jawab. Dengan demikian, kemajuan teknologi dapat dimanfaatkan untuk hal-hal yang produktif tanpa mengabaikan nilai-nilai agama serta norma sosial kemasyarakatan.

 

“Gunakan teknologi dengan bijak. Jaga kerahasiaan data. Jaga diri dari hoaks, dan jangan gunakan untuk merugikan orang lain. Penggunaan teknologi perlu digunakan secara bertanggung jawab dengan menghormati nilai-nilai agama dan sosial kemasyarakatan,” pungkas Wapres.

 

Dalam kesempatan tersebut, Wapres sempat berinteraksi langsung dengan para santri yang memaparkan hasil percobaan mereka, seperti pembuatan aplikasi identifikasi wajah untuk rekam kehadiran.

 

“Ini kan kalian baru 3-4 hari mempelajari coding dan AI ini ya? Jadi luar biasa sekali anak muda, baru diajari basic-basic nya, langsung bisa melakukan inovasi seperti ini,” puji Wapres.

 

Ketiga santri yang ditanya, yakni Reyhan, Aditya, dan Muhammad Syarief Altaff, mengaku bahwa ini merupakan pengalaman pertama mereka mempelajari AI. Pelatihan ini dinilai mampu memperkaya wawasan sekaligus memantik semangat mereka untuk mendalami teknologi lebih jauh, sehingga kelak menjadi SDM unggul yang memiliki keseimbangan antara ilmu keagamaan, kecakapan digital, dan karakter yang kuat.

 

“Walaupun saya baru 4 hari menerima pelajaran tentang robotik ini, ini sangat memotivasi saya untuk bisa mendalami lebih jauh tentang teknologi, dan menciptakan sesuatu yang bisa bermanfaat bagi banyak orang,” ungkap Reyhan, siswa SMA kelas 3 yang memamerkan hasil uji coba aplikasi identifikasi wajah.

Baca juga
Diduga Peras Investor Asing Ratusan Juta , Oknum Imigrasi Yogyakarta Dilaporkan ke Ditjen Imigrasi
Penulis: TimEditor: Red